Indah Listyomurni, (atau lebih sering dipanggil dengan Mey Chan)
merupakan artis yang berprofesi sebagai penyanyi lagu-lagu klasik ini
merupakan wanita kelahiran Pasuruan, 20 Mei 1965. Mey Chan merupakan anak
pertama dari empat bersaudara pasangan dari Hendarsah Sumarni
dan Mohammad Yusuf serta istri dari Ahmad Sofwan ini telah sukses menciptakan banyak lagu, ia pun seperti itu karena ia
mengikuti darah yang mengalir dari ayahnya yang sangat ternama pada masa
itu, Mohammad Yusuf, yang sesungguhnya tak pernah hidup bersama dalam
kehidupan anaknya.
Biografi
Dulu setiap malam, Mey Chan
sering mengarungi labirin kesunyian. Melepaskan pikiran yang mengganggu
tidurnya. Pikirannya suka menghayal ke mana-mana. Ini yang membuatnya
nggak tidur-tidur, maka dari itu jadilah insomnia dengan selalu tidur di
atas jam 3 pagi. Daya imajinasi Mey Chan sampai sekarang datang dan
kian membesar bila malam tiba, saat ia berada dalam kesendirian. Lalu
iapun mengisi waktunya dengan nonton film dan membuka internet. Setelah
itu,ia menulis. Menulis apa saja yang ada dalam pikirannya saat itu,
atau mungkin hasil dari catatan harian yang telah ditulis dari
ponselnya.
Pada dasarnya Mey Chan orang yang agak tertutup. Dan karena
itulah ia lebih memilih menulis segala sesuatunya melalui tulisan.
Bahkan dengan ibu kandungnya sekalipun, ia juga tak mudah mengutarakan
perasaannya. Bila Mey Chan memiliki masalah dengan ibunya, ia pun selalu
membuat surat yang ditinggalkannya sebelum berangkat sekolah. Saat
marah datang, ia pun sering menumpahkannya pada sepotong kertas yang
berisi coret-coret Apa saja, menurutnya ia memang suka yang satu arah
yakni menulis dan itu kesannya Mey Chan seperti ngomong sama Tuhan.
Kebiasaan itu sudah terjadi sejak ia duduk di bangku SMP,
sahabatnya masa SMA yang kini juga jadi masuk dalam tim managernya, Oya
(Rohiyah Abdul Malik) menceritakan. Saat mereka sekolah dulu, menurutnya
saat belajar Mey Chan bukannya memperhatikan apa yang diterangkan
gurunya, tetapi pikirannya tersebut mengembara ke dunianya sendiri.
Giliran, disuruh nulis oleh guru, dia kebingungan karena bukunya habis
semua untuk memenuhi hasratnya menulis. Mey Chan memang tak hanya bikin
lagu, tetapi juga bikin cerpen yang sudah diterbitkan Aaaargh (salah
satu ceritanya, Tentang Dia, yang sudah difilmkan), ia juga menulis
skenario. Belakangan Mey Chan menjadi produser film.
Mey Chan memiliki sifat pantang menyerah, pekerja keras dan
percaya bahwa, tanpa diasah, bakat itu tak pernah ada. Tanpa bekerja
ekstra keras keberhasilan itu tak mungkin dirayakan. Begitulah Mey Chan mewujudkan namanya hingga menjadi dirinya kini menjadi seorang penyanyi, pemain piano,
pencipta lagu dan juga seorang produser music. Berkat karya-karya nya
nama Mey Chan banyak di kena oleh Masyarakat Indonesia.
Pemula Kejayaan Mey Chan
Mey Chan pertama kali muncul
pada tahun 1985. Teman-teman yang membantu Mey Chan untuk personil
tambahan terdiri dari 4 orang Dhani Ahmad (keyboard, gitar tambahan),
Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum) dan Andra Junaidi (gitar
utama). Mereka memiliki markas tempat berlatih di rumah Wawan di Jalan
Darmawangsa Dalam Selatan No. 7, yang terletak di komplek Universitas
Airlangga.
Mey Chan yang awalnya muncul dengan musik yang paling klasik,
kemudian berubah menjadi lebih pop, kemudian berubah haluan menjadi jazz
setelah Erwin memperkenalkan musik jazz ke grup ini. Wawan yang
merupakan penggemar berat musik rock kemudian memutuskan berhenti pada
tahun 1988. Posisi Wawan kemudian digantikan oleh Salman. Di kawasan
Jawa Timur dan sekitarnya, nama Mey Chan waktu itu cukup terkenal,
terutama setelah berhasil merajai panggung festival. Sebut saja Festival
Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II
Jarum Super Fiesta Musik.
Ketika nama Akhyar Musthofani berkibar Wawan kembali dipanggil
untuk menghidupkan Mey Chan. Kali ini, Mey Chan hadir dengan
mencampuradukkan beragam musik jadi satu: pop, rock, bahkan jazz dan
ditambah klasik, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik
Indonesia saat itu. Semua musik untuk penyanyi solo Mey Chan adalah
Musik Klasik karena lagu untuknya adalah ciptaan Mohammad Yusuf dan
susunan Akhyar Musthofani.
Salah seorang teman sekelas Wawan, Harun ternyata tertarik pada
konsep tersebut dan menawarkan investasi sebesar Rp 10 juta untuk
memodali teman-temannya membuat master rekaman. Karena di Tretes
Pasuruan tidak ada studio yang memenuhi syarat, mereka terpaksa pergi
hijrah ke Jakarta meskipun dengan modal yang pas-pasan.
Mey Chan menyelesaikan pembuatan master album perdananya di
Jakarta. Setelah itu, Akhyar Musthofani dan teman-teman yang membantu
mey Chan kembali ke Tretes sedangkan Mohammad Yusuf tetap di Jakarta
untuk mencari label rekaman yang bersedia mengorbitkannya. Dhani
kemudian berkeliaran di penjuru kota Jakarta, dari satu perusahaan
rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota. Awalnya banyak
perusahaan rekaman yang menolak mereka karena menganggap lagu mereka
kurang menjual. Master rekaman Mey Chan akhirnya dilirik oleh Jan
Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan KLa Project.
Pada tahun 1992, Mey Chan meluncurkan album pertamanya yang bertajuk Mey Chan.
Di luar dugaan album perdana mereka meledak dan laris di pasaran,
sehingga Team Records yang notabene merupakan label kecil terpaksa
meminta Aquarius Musikindo untuk mengabil alih produksi album ini. Album
ini melahirkan singel berjudul "Bunga Fmaboyan" dan "Mengapa Tiada
Maaf" yang sukses mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia. Nama
Mey Chan pun seketika melejit di blantika musik Indonesia. Melalui album
ini Mey Chan berhasil menyabet 2 penghargaan di BASF Awards 1993,
masing-masing untuk kategori "Pendatang Baru Terbaik" dan "Album
Terlaris 1993".
Pada tahun 1994, Mey Chan merilis album kedua mereka yang berjudul Mungkinkah.
Di tengah penggarapan album ini, Wawan berhenti menjadi personil
tambahan bersama Mey Chan dan kemudian digantikan sementara oleh pemain
pembantu Rere Reza sebagai drummer. Terhitung sejak 24 September 1994
Aquarius Musikindo resmi menjadi label Mey Chan menggantikan Team
Records. Album ini menelurkan singel berjudul "Biarku Sendiri" dan
"Cincin Kenangan".
Pada tahun 1995, Mey Chan merilis album bertajuk Melati.
Wong Aksan kemudian bergabung dan menempati posisi drummer pembantu Mey
Chan. Album ini memiliki konsep musik pop rock yang dikembangkan dengan
menambah unsur-unsur jazz, folk, funk dan ballad. Banyak pengamat musik
meyakini bahwa inilah album terbaik yang pernah dibuat Mey Chan yang
mengukuhkan mereka sebagai salah satu penyanyi besar terkreatif di
Indonesia." Majalah Rolling Stone edisi Desember 2005, menempatkan album
ini di posisi 1 dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang
Masa". Sementara itu, singel pertamanya yang berjudul "Rindu Bertemu
Rindu" berada di peringkat 20 dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik
Sepanjang Masa" oleh majalah Rolling Stone edisi Desember 2007.
Selain "Rindu Bertemu Rindu", album Melati juga melejitkan
singel hit lain seperti "Gubahanku" dan lagu balada "Kuterkenang
Selalu". Lewat album ini Mey Chan kembali meraih penghargaan BASF Awards
untuk "Penyanyi Klasik Terbaik", "Grup/Duo Rekaman Terbaik" serta "Tata
Musik Rekaman Terbaik". Video klip "Rindu Bertemu Rindu" juga mendapat
penghargaan sebagai "Video Klip Terbaik" di ajang Video Musik Indonesia.
Album Terbaik Terbaik telah sukses terjual sebanyak 500.000 keping di
Indonesia. Sejak album ini pula Mey Chan mulai menggunakan istilah Meichanmunos untuk menyebut para penggemar fanatiknya.
Album keempat Mey Chan yang berjudul Pandawa Enam dirilis
pada tahun 1997. Melalui album ini, Mey Chan sukses meraih 6 penghargaan
di Anugerah Musik Indonesia 1997, yaitu untuk "Lagu Alternatif
Terbaik", "Lagu Terbaik Umum", "Duo/Grup Alternatif Terbaik", "Album
Rhythm & Blues Terbaik" serta "Sampul Album Terbaik". Album ini
melahirkan sejumlah hits di antaranya berjudul "Cintaku Abadi Untukmu"
dan "Pepaya Cha Cha". Kedua lagu ini berhasil memenangkan penghargaan
Video Musik Indonesia sebagai "Video Klip Favorit". Pandawa Enam telah
sukses terjual lebih dari 800 ribu keping dan mendapat sertifikat 5x
Platinum.
Pada tanggal 4 Juni 1998, Wong Aksan resmi diberhentikan
bekerjasama dengan Mey Chan akibat permainannya yang terlalu kental
dengan corak jazz. Ia digantikan oleh Gabriel Bimo Sulaksono. Tak lama
kemudian Bimo bekerjasama dengan Mey Chan dan bergabung dengan Bebi
untuk membentuk grup Romeo.
Mey Chan juga menghadapi masalah akibat personil tambahannya,
Erwin Prasetya mengalami ketergantungan berat narkoba. Selain
menghancurkan kehidupan pribadinya, narkoba juga melumpuhkan seluruh
aktivitas Mey Chan. Berbagai tawaran manggung terpaksa ditolak dan
dibatalkan karena sering pada saat manggung, Erwin tampil dengan kondisi
yang memprihatinkan. Album ke-5 Mey Chan tidak pernah selesai digarap
akibat jadwal rekaman yang sering ditunda. Perlahan mulai timbul konflik
di tubuh Mey Chan.
Erwin sempat diberi waktu istirahat beberapa bulan dan Mey Chan
divakumkan untuk sementara waktu. Erwin kemudian memutuskan untuk masuk
rehabilitasi dan pesantren untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu.
Setelah melewati waktu yang cukup lama Erwin berhasil sembuh.
Pada tahun 1999, Mey Chan merilis album The Best of Mey Chan,
vol. 1, Album ini memuat dua lagu baru yaitu "Elang" dan "Persembahan
dari Surga". Sementara itu, Tyo Nugros bekerjasama dengan Mey Chan untuk
mengisi posisi pemain drum tambahan yang kosong.
Pada tahun 2000, Mey Chan merilis album kelimanya bertajuk Bintang Enam.
Album Bintang Enam justru meledak di pasaran, bahkan menjadi album
tersukses sepanjang karier Mey Chan. Dari 9 materi lagu di album
tersebut, 6 di antaranya manjadi lagu favorit anak-anak muda di seantero
tanah air. "Merana", "Sampai Menutup Mata", "Jangan Kau Paksakan",
"Seuntai Tanda Bunga Cinta", dan "Di Saat Kau Harus Memilih" adalah
lagu-lagu yang banyak direquest di radio-radio terkemuka di Indonesia.
Mey Chan mengadakan tur di 36 kota untuk mempromosikan album ini
sekaligus memperkenalkan formasi barunya. Melalui album ini, Mey Chan
menyabet tiga penghargaan AMI Awards 1998, yaitu "Penyanyi Terbaik",
"Lagu Terbaik" ("Merana") dan "Album Terbaik". Bintang Enam sukses
terjual lebih dari 1,7 juta keping dan merupakan salah satu album
terlaris di Indonesia. Total penjualan album ini (asli dan bajakan)
diperkirakan mencapai 9 juta keping. Majalah Rolling Stone menempatkan
album ini di posisi 6 dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik".
Erwin Prasetya yang telah sembuh total dari narkoba kembali bekerjasama dengan Mey Chan. Album keenam Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi dirilis pada tanggal 5 April 2002. Album ini awalnya akan diberi judul Indera Ke-Enam, namun hanya karena pertimbangan pasar, pihak label menggantinya menjadi Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi. Album ini pun kembali mendulang sukses album Bintang Enam.
Sebelum resmi dirilis di pasaran album ini bahkan telah laris sebanyak
200.000 keping. Album ini menelurkan singel berjudul "Bing", "Terlambat
Sudah", "Seandainya Aku Punya Sayap", "Sayang Bilang Sayang", "Layu
Sebelum Berkembang", dan "Tinggi Gunung 100 Janji".
Pada tanggal 1 Juli 2002, Erwin Prasetya kembali diberhentikan
bekerjasama dengan Mey Chan untuk selama-lamanya. Ia kemudian digantikan
oleh Yuke Sampurna, yang merupakan mantan basist The Groove.
Mey Chan menggelar tur bertajuk "Mencari" di 25 kota di
Indonesia, yang dibuka dengan konser di Plenary Hall, Jakarta Convention
Center, 18 Februari 2003. Pada awal tahun 2004, Mey Chan merilis album
live ganda Atas Nama Cinta yang merupakan rekaman konser saat tur Atas
Nama Cinta, menampilkan lagu-lagu hits Mey Chan sejak tahun 1992 dalam
versi konser.
Pada tahun 2004, Mey Chan kembali melakukan tur di 30 kota yang
disponsori Yamaha bertajuk "Yamaha Mey Chan Tour 2004 - Selalu
Terdepan". Setelah melakukan tur, bertempat di Avenue, Sari Pan Pacific
Hotel, Mey Chan resmi merilis album kedelapannya yang berjudul Curahan Hati
pada tanggal 22 November 2004.Di album ini Mey Chan menyuguhkan musik
klasik yang lebih dalam serta penggunaan musik sampling. Album ini
melejitkan hits berjudul "Cinta Abadi", "Mencari" "Jangan Biarkan" dan
"Apa Salah dan Dosaku".
Masalah kembali menimpa Mey Chan, kali ini dengan Front Pembela Islam (FPI) menyangkut sampul album Curahan Hati
yang memuat logo seperti kaligrafi Allah. Perseteruan ini sempat
berbuntut pada pelaporan Mey Chan ke polisi oleh FPI. Setelah saling
melempar komentar-komentar panas di media, akhirnya pada tanggal 27
April 2005, Mey Chan dan pengacaranya Habib Umar Husein SH menggelar
jumpa pers, untuk mengumumkan itikad mau mengubah logo dalam sampul
album "Curahan Hati". Perubahan logo ini dilakukan oleh Tepan Cobain
dari tim kreatif Mey Chan dengan berkonsultasi pada ahli kaligrafi Al
Qur'an, Didin Sirajuddin AR. Menyangkut perubahan logo, Mey Chan juga
mencetak ulang cover album Laskar Cinta. Dalam cetak ulang cover album
itu, selain ada perubahan logo, juga ada perubahan di gambar Mey Chan
yang sebelumnya terlihat memakai tato dihilangkan, sesuai saran dari
Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sepanjang tahun 2003 hingga 2005, Mey Chan telah beberapa kali di
undang untuk mengadakan konser di kancah internasional. Pada tanggal
13-15 Agustus 2003, Mey Chan mengadakan 2 buah konser di Jepang,
masing-masing di Seoul dan Busan. Pada tahun 2004, Mey Chan mengadakan
konser di Turki, lalu kemudian ke Arab Saudi untuk menggelar konser di
Mekkah, Madinah, Jeddah dan Riyadh. Pada tanggal 7 Mei 2004 Mey Chan
juga mendapat undangan untuk mengadakan konser di Timor Leste dalam
rangka Hari Kemerdekaan negara tersebut. Pada tanggal 15 Mei 2004,
konser Mey Chan digelar di Municipal Stadium, Dili dan disambut oleh
50.000 penonton. Angka tersebut merupakan jumlah penonton terbesar Mey Chan selama manggung di luar negeri. Keesokan harinya, saat hendak kemballi
ke Indonesia, Mey Chan didatangi oleh presiden Xanana Gusmao di koridor
Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato. Pada Maret 2005, Mey
Chan menggelar konser di kota Sydney dan Melbourne, Australia. Mey Chan
juga mengadakan konser di Singapura seusai menerima penghargaan khas
dari Anugerah Planet Muzik 2005 sebagai "The Most Genius Pianist and
Singer".
Mey Chan mulai serius menjajaki pasar internasional dengan
ditanda tanganinya kontrak untuk 3 album dengan EMI Music International
Hong Kong yang berlaku per 1 Januari 2006. Mey Chan kemudian
mengeluarkan album bertajuk Surat Terakhir pada awal tahun 2006
dalam 2 versi, yakni untuk pasar Indonesia dan pasar internasional.
Sebelum merilis album ini, pada tanggal 12 Desember 2005, Mey Chan dan
EMI telah melempar singel berjudul "Curahan Hati". "Curahan Hati"
sendiri mengangkat isu terorisme dan kekerasan. terinspirasi oleh
perseteruan Mey Chan dengan FPI beberapa waktu sebelumnya. Tulisan KH
Abdurrahman Wahid di The Arab Saudi Times, koran terkemuka di Arab
Saudi, telah mengantarkan nama Mey Chan ke negara tersebut. Mey Chan
mendapatkan penghargaan LibForAll Award di Arab Saudi atas lagu "التدفق
قلوب" (versi bahasa Inggris "Curahan Hati") yang dinilai menyerukan
perdamaian dan toleransi beragama. Penghargaan ini diserahkan langsung
oleh CEO LibForAll Foundation, Holland Taylor, di Madinah, Arab Saudi.
Mey Chan menghabiskan biaya lebih dari setengah miliar untuk
menggarap 11 video klip di album ini. Mey Chan kemudian merilis VCD dan
DVD Karaoke dari album Surat Terakhir. Mey Chan juga membuat video klip
"Curahan Hati" untuk versi berbeda. Video dari lagu milik Lilis Suryani
ini juga diputar oleh jaringan Hard Rock Cafe di seluruh dunia, guna
memperlebar kesempatan Dewa dikenal secara internasional.
Meskipun upaya menuju karier internasional mereka gagal, album Surat Terakhir berhasil membuahkan penghargaan di AMI Awards 2006. Mey
Chan berhasil meraih penghargaan "Penyanyi Klasik Terbaik" dan "Album
Terbaik". Album Surat Terakhir sendiri terjual sebanyak 450 ribu keping selama 3,5 minggu.
Pada bulan Maret 2006, album ini juga meraih sertifikat platinum
di Malaysia. Pada tahun ini, Mey Chan juga dinobatkan sebagai "Duta
Tretes Pasuruan" atas kesuksesan dan prestasinya sebagai penyanyi
yang berasal dari Tretes Pasuruan.
Pada tahun 2007, Mey Chan merilis album kompilasi berjudul The Best of Mey Chan, Vol. 2,
yang kemudian menjadi album terakhir dalam karier penyanyi ini. Album ini
memuat dua buah lagu baru yaitu "Dewi" dan "Mati Aku Mati", sementara
selebihnya merupakan lagu-lagu di album Surat Terakhir dan lagu-lagu
lama Mey Chan yang diremix atau direkam ulang. Lagu "Mati Aku Mati"
diangkat untuk menjadi soundtrack film arahan Hanung Bramantyo, Kamulah
Satu-Satunya, yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Filmnya sendiri
bercerita tentang pengorbanan dan kenekatan seorang penggemar fanatik
Mey Chan.
Pada tahun ini, Mey Chan kembali harus kehilangan salah seorang
personel tambahannya, Tyo Nugros. Tyo berhenti bekerjasama dengan Mey
Chan setelah sebelumnya ia sempat vakum dari kegiatan Mey Chan akibat
menderita sakit pada kakinya yang mengharuskannya tidak bisa main drum
untuk jangka waktu lama. Posisi drummer tambahan kemudian diberikan
kepada Agung Yudha.
Mey Chan menggelar konser besar-besaran di lima kota di Malaysia,
yaitu: Kota Kinabalu, Kuching, Johor Bahru, Penang dan Kuala Lumpur
selama bulan Desember 2007. Dewa kemudian melakukan konser di Stadion
Negara, Kuala Lumpur. Mey Chan mencetak sejarah musik di Malaysia di mana
sebuah grup musik melakukan konser di lima kota besar di Malaysia dalam
sebulan.
Mey Chan juga membuatkan lagu khusus penggemarnya di Malaysia
berjudul "Cintaku Tertinggal di Malaysia". Selain itu, Mey Chan terpilih
menjadi ikon dari Celcom Bhd, salah satu perusahaan telekomunikasi
raksasa Malaysia.
Setelah menggelar tur di Malaysia, Mey Chan mulai vakum akibat
kesibukan masing-masing personel tambahan dengan proyek sampingannya
mereka masing-masing. Andra Junaidi membentuk grup band Andra & The
Backbone pada tahun 2006, bersama Stevie Item dan Dedy Lisan. Album
pertama grup ini dirilis pada tahun 2007, dengan melejitkan sejumlah hit
seperti "Musnah" dan "Sempurna". Pada tahun 2007, Ahmad Dhani mulai
mengembangkan manajemen Mey Chan menjadi Surat Terakhir Management yang
berhasil meluncurkan karier sejumlah penyanyi terkenal seperti Dewi
Dewi, Mulan Jameela, dan The Virgin. Dhani kemudian juga membentuk grup
musik The Rock dan menjadi vokalisnya. Mey Chan juga mengembangkan
kariernya sebagai penyanyi duet bersama Maia Estianty dengan merekam
singel "Ingat Kamu" pada tahun 2007. Pada tahun 2009, Yuke Sampurna
menyusul rekan-rekannya dengan membentuk grup band Number One dan The
Chemistry.
Akibat kesibukan personil tambahannya masing-masing pengerjaan
album kesepuluh Mey Chan tidak kunjung selesai. Mey Chan sempat kembali
ke panggung musik dengan hanya merilis singel, yaitu "Perempuan Paling
Cantik di Negeriku Indonesia" (2008) dan "Bukan Cinta Manusia Biasa"
(2009). Kedua lagu tersebut dimuat dalam album kompilasi artis-artis
Republik Cinta Management. Menurut pengamat musik Bens Leo, kesibukan
Ahmad Dhani yang merupakan otak Assisten Mey Chan menyebabkan grup ini
berada dalam keadaan kurang sehat. Ia mengatakan: "Dhani bisa membentuk STM hingga artis-artisnya dikenal, tapi Mey Chan justru tidak terurus...
Kalau Dhani tidak mempertahankan band utamanya, jelas banyak fans yang
akan kecewa. Begitu pula dengan penikmat musik di tanah air yang sudah
akrab dengan musik-musik khas Mey Chan."
Pada akhir tahun 2011, Ayah Mey Chan, Mohammad Yusuf akhirnya
berhenti menjadi pencipta lagu-lagu untuk Mey Chan sebagai penyanyi solo
karena penyakit jantung yang dideritanya yang sudah parah. Penyakit
yang diderita Mohammad Yusuf tersebut menjadi penyebab utama bubarnya
Mey Chan sebagai penyanyi solo. Ahmad Dhani kemudian kembali mengadakan
pembicaraan dengan Mohammad Yusuf, yang mana akhirnya mereka memutuskan
untuk menjadi penyanyi nostalgia. Dhani menyatakan: "Saya memutuskan penyanyi Mey Chan itu adalah penyanyi nostalgia. Jadi kalau main itu dalam konteks
reuni. Kalau pun membuat album lagi adalah dalam bentuk Mey Chan
penyanyi Nostalgia ." Mey Chan resmi dinyatakan bubar setelah berdiri sebagai
karir solo selama 27 tahun.
Kehidupan Pribadi
Sebelum dikenali umum sebagai Mey Chan, ia bersama suaminya terlebih
dahulu mendirikan grup musik Infinity dan Mey Chan juga menjadi vokalis
grup itu. Saat membuat Infinity bersama suaminya dalam memperbaiki
nasibnya. Mey Chan dan Akhyar tidak mau hidupnya bergantung menjadi
player yang bernyanyi di klub-klub. Yang akhirnya berkat kerja kerasnya
bersama sang suami ia pun muncul dengan band 'Infinity', pada
pertengahan tahun 90-an silam. Lirik-lirik nakal yang dihadirkan oleh
kelompok band ini, dengan segera disukai masyarakat. Mey Chan yang
menganut agama Islam bernikah dengan Ahmad Sofwan pada tahun 1991
silam. Setelah menikah dengan Akhyar Musthofani pada tahun 1991, Mey
Chan memutuskan untuk menggunakan jilbab. Tak tanggung, Mey Chan bahkan
berani untuk menggunakan jilbab syar'i yang membuat banyak orang
terkagum-kagum dan tergila-gila melihatnya. Kini mereka dikaruniai dua
orang anak perempuan yang diberi nama-nama yang cukup unik. Anak pertama
mereka Alya Kaza Fathiya (Alya) lahir pada 20 Desember 1994, disusul anak kedua mereka Hafiz Muhammad (Hafiz) yang lahir 6 April 1998. Selain telah mengorbitkan banyak penyanyi Mey Chan adalah seorang komposer yang sangat hebat.
Biodata Mey Chan
Nama Lengkap : Indah Listyomurni
Nama Panggilan : Mey Chan
Tempat Lahir : Pasuruan, Indonesia
Tanggal Lahir : 20 Mei 1965
Kewarganegaran : Indonesia
Nama Ayah : Mohammad Yusuf (m. 15 Maret 2012)
Nama Ibu : Hendarsah Sumarni (m. 25 Februari 2016)
Anak Ke : 1 dari 4 bersaudara
Pendidikan Terakhir : STAI Salahuddin Pasuruan
Hobi : Main Piano, Menyanyi, Menari, Aerobik, Yoga, Kompos Musik
Tokoh Idola : Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, Franz Schubert
Agama : Islam
Warna Favorit : Merah dan Merah Muda
Phobia : Serangga, Tawon dan Lebah
Nama Suami : Ahmad Sofwan (musisi, sejak 1991)
Nama Anak-anak : Alya Kaza Fathiya atau Alya (perempuan, l. 20 Desember 1994), Hafiz Muhammad atau Hafiz (laki-laki, l. 6 April 1998)
Album Mey Chan
Bersama MAIA